Ihsg Review 21-02-2015

 membatalkan prediksi garis biru dan cenderung menentukan garis merah IHSG Review 21-02-2015

Pergerakan IHSG menembus resisten 5367 sebagai kelanjutan pasca mini correction membatalkan prediksi garis biru dan cenderung menentukan garis merah. Karena itu garis biru aku hapus dan hanya menyisakan garis merah dan hijau. Garis merah ini anomali sebenarnya, lantaran IHSG rebound pada support yang kurang ideal. Para beruang ibarat kehabisan waktu. Dalam 1 bulan terakhir ini aku melihat berbagai anomali yang terjadi. Di ketika ada kesempatan anggun untuk rally, IHSG malah flat. Di ketika ada kesempatan anggun untuk koreksi, IHSG juga flat. Ini dengan cara membandingkan IHSG dengan arus modal yang masuk, sehingga jikalau dirata-ratakan IHSG flat dan arus modal juga flat.

Rupiah melemah ke level Rp12809. Ini merupakan titik terendah dalam 3 bulan terakhir. Ini tentu bukan situasi yang bagus. Saya menilai satu bulan terakhir ini tenaga IHSG hanya bersumber dari sentimen konkret di US dan Eropa. Kita melihat indeks Dow dan Eropa begitu cerahnya, sehingga mau tidak mau IHSG ikut terkena imbasnya, walaupun bekerjsama pergerakan IHSG ini rada kurang nyaman. Saham perbankan memimpin penguatan IHSG sebagai respon konkret pasar atas kinerjanya yang cemerlang. Selanjutnya penurunan BI rate sebagai respon deflasi di bulan Januari 2015 menunjukkan angin segar buat sektor properti. Tapi jujur saja, aku kurang suka mengambil posisi berdasarkan momentum ibarat ini. Penurunan BI rate ini pun bekerjsama di luar prediksi analis. Alasan besar lengan berkuasa kenapa BI rate ini justru diprediksi naik, bukan turun, adalah lantaran current account masih defisit, walaupun defisitnya tidak sebesar yang diprediksikan tahun lalu. Dengan menaikkan BI rate, tentunya diperlukan menarik hot money masuk yang pada gilirannya dapat memperkuat nilai tukar rupiah. (Sori.. aku tidak menuliskan angka-angka pastinya. SIlahkan googling sendiri.) Namun alasan BI menurunkan BI rate ini untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan berdasarkan aku ini merupakan keputusan yang cukup berani (kontrarian). Tampaknya ketika ini Pemerintah punya posisi tawar yang cukup anggun buat pemodal asing, sehingga meskipun BI rate diturunkan, Pemerintah yakin investor absurd tetap akan masuk ke Indonesia.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, penurunan BI rate gres diikuti dengan penurunan suku bunga KPR 9 bulan setelahnya. Apakah kali ini pun ibarat itu, kita tidak tahu. Itu sebabnya naik turunnya BI rate ini tidak lantas menjadi sentimen tertentu buat sektor properti, kecuali jangka pendek saja. Saya yang terbiasa investasi jangka menengah di sektor properti jarang sekali memakai sentimen naik turun BI rate sebagai momentum beli atau jual, tapi lebih cenderung pada evaluasi fundamental. Jika cukup sabar, maka di selesai bulan Februari – awal Maret 2015 ini sudah akan rilis LK Tahunan masing-masing emiten. Kaprikornus buat yang belum pegang sektor properti, ya jangan khawatir. Mudah-mudahan golden momentum-nya masih belum muncul.

IHSG masih belum menuntaskan Minor Wave 3 of Intermediate Wave (3) of Primary Wave ((3)) of Cycle Wave V. Saat ini dimungkinkan IHSG akan bergerak di garis merah. Saya rada skeptis IHSG akan mengejar garis hijau, tapi dapat saja tebakan ini meleset, lantaran baik garis merah dan garis hijau punya sasaran puncak yang sama, adalah 5517.

 membatalkan prediksi garis biru dan cenderung menentukan garis merah IHSG Review 21-02-2015

Sejak tanggal 12 Februari 2015 lalu, absurd sudah membentuk posisi long ideal ditandai dengan Total Net dalam 1 bulan sudah positif. Dari grafik di atas ini terlihat investor absurd terus mencatatkan agresi beli bersih, meskipun rupiah terus terdepresiasi sampai ke titik terendah dalam 3 bulan terakhir. Ketidaksinkronan inilah yang menciptakan aku langsung kurang nyaman dan cenderung curiga dengan pergerakan IHSG ketika ini, sehingga bolak balik memprediksikan adanya koreksi berdasarkan hitungan EW. Tapi koreksi tajam yang diprediksikan itu tak juga kunjung tiba. Ada satu hal yang mungkin perlu diperhatikan pada grafik di atas. Tanggal 18 Februari 2015 absurd mencatatkan beli higienis cukup besar, adalah 568 juta lembar. Ini merupakan volume net buy terbesar dalam 6 bulan terakhir ini. Sebelumnya pernah terjadi net buy besar ibarat ini dan diikuti oleh periode konsolidasi (kalau tidak mau disebut koreksi) dalam rentang waktu 1 bulan. Apakah hal yang sama akan terjadi nanti? Kita lihat saja.