Ihsg Review 07-02-2015

 Pergerakan IHSG sepertinya masih tersandera dengan pergerakan rupiah yang nyaris tak keman IHSG Review 07-02-2015

Pergerakan IHSG sepertinya masih tersandera dengan pergerakan rupiah yang nyaris tak kemana-mana. Walaupun arus modal masuk terus terjadi semenjak pertengahan Desember 2014 s/d hari ini, tapi kenaikan IHSG tak sefantastis modal yang masuk. Kondisi IHSG menyerupai pemain bola yang belum sembuh dari cedera, tapi sudah dipaksa untuk bermain lagi. Indonesia membukukan pertumbuhan ekonomi 2014 paling lambat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Ini dapat dimaklumi lantaran Indonesia sudah mengalami defisit 40 bulan lamanya akhir beban import yang hiperbola dan ekspor yang menurun. Akibat terlalu mengandalkan sektor migas, sementara harga komoditas turun, maka Indonesia hanya 1/2 berpasrah diri ketika rupiah makin usang makin terpuruk hingga kini ini. Kita berharap pada pemerintahan gres yang kini ini benar-benar berkomitmen memperbaiki itu dan jangan hingga mengulangi kesalahan pemerintahan sebelumnya.

USD mulai menguat semenjak April 2011. Bisa dibilang rupiah belum pernah menyentuh level tahun 2011 kemudian hingga hari ini, walaupun bahwasanya sepanjang 2013-2014 index USD menawarkan pelemahan. Dimungkinkan US sudah melewati fase krisisnya semenjak 2013 lalu. Lalu semenjak final 2014 s/d awal 2015 USD terus menguat, tapi US Treasury Yield malah turun. Ini artinya data-data ekonomi US ternyata melampaui ekspektasi. Itu sebabnya US market terus rally, yang imbasnya juga ke IHSG. Hanya saja, kondisi IHSG agak sedikit berbeda lantaran pertumbuhan PDB Indonesia ternyata yang terendah kurun waktu 5 tahun terakhir, yaitu 5,01%. Untuk tahun 2015 Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5.8%.

IHSG bergerak flat, meleset dari asumsi ahad lalu, tapi tak mengubah susunan wave. Kondisi ini menghasilkan beberapa prediksi prediksi pergerakan selanjutnya. Saya menggambar 3 kemungkinan yang dapat terjadi. IHSG sedang membentuk Minor Wave 3 of Intermediate Wave (3) of Primary Wave ((3)) of Cycle Wave V.

 Pergerakan IHSG sepertinya masih tersandera dengan pergerakan rupiah yang nyaris tak keman IHSG Review 07-02-2015

FNBS IHSG menawarkan ajaib masih belum banyak membukukan agresi beli bersih. Mungkin menunggu hasil PDB yang biasanya diumumkan pada bulan Februari setiap tahunnya. Ya tentu saja kita tak dapat berharap kesannya terlalu bagus, lantaran kita sudah tahu pertumbuhan PDB 2014 yaitu yang terendah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Itu sebabnya tahun 2015 banyak yang mengisyaratkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan terlambat. Yang bahwasanya terjadi, pertumbuhan ekonomi 2014 yang melambat, sedangkan 2015 belum tahu.

Penguatan USD terhadap rupiah kini ini sudah lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental, dimana US membaik sedangkan Indonesia masih belum. Untuk pasar US sendiri, ada kecenderungan indeks dollar akan turun nantinya untuk mencari kestabilan. Apabila pada tahun 2015 ini Pemerintah benar-benar berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi di atas 5.8%, maka tidak tertutup kemungkinan tahun ini juga rupiah akan menguat ke level Rp11.200. Prediksi pelemahan USD ini bukan lantaran ekonomi US yang melemah, melainkan justru kebalikannya. Dalam equilibrium yang dicari, USD harus tetap rendah, harga minyak rendah, inflasi terkendali, dan The FED dapat mempertahankan suku bunga pada level kini ini (atau mungkin diturunkan lagi).

We could soon see a major decline in the dollar and the price of U.S. Treasuries, which would translate directly into a significant rebound in interest rates. That would be a very big deal.” Carley Garner, co-founder dari DeCarley Trading, penulis buku “A Trader’s First Book on Commodities” (13/01/2015). Jika prediksi Garner ini benar, maka akan ada informasi penting yang muncul di tahun 2015 ini yang akan jadi petanda apakah USD akan bertahan atau turun sesuai prediksi.